Jika bukan karena panggilan tugas yang mengekang, Erika pasti sudah meloncat dari panggung catwalk, menghampiri sosok pria yang ia rindukan itu dengan langkah terburu. Tapi dia tahu, profesionalisme harus dipegang teguh. Hingga akhirnya, ketika pekerjaan selesai, Erika berlari secepat angin, menembus keramaian hanya untuk bertemu dengan Alvaro yang juga berjalan menghampirinya. "Kak Al, aku kangen banget sama kamu," bisiknya dalam pelukan yang tak bisa disembunyikan lagi, d**a penuh dengan rindu yang terpendam begitu lama. Alvaro membalas pelukan itu dengan erat, napasnya bergetar. "Kenapa kamu nangis, Sayang? Aku ada di sini." Erika menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan gelombang emosi yang hampir pecah. "Aku … aku cuma terharu. Kamu bilang, kamu belum bisa pulang dan nggak tahu k

