Reno menatap kosong dinding penjara yang dingin, d**a sesak menahan beban penyesalan yang menyesakkan. Ingin rasanya ia berlari ke pelukan sang ibu, memohon ampun atas segala kesalahan yang telah menggerus harapan keluarga. Tapi kenyataan yang kejam menghentikannya, jeruji besi itu adalah penjara raga sekaligus jiwa. Apa guna menyesal saat luka sudah menganga? Nasi telah menjadi bubur, tak ada jalan untuk mengembalikannya ke bentuk semula. "Maafkan aku, bu ..." bisik Reno dengan suara hampir patah. Suara tangis tertahan, bergumul di tenggorokannya. "Aku tahu aku sudah terlalu jauh, terlalu menghancurkan segalanya. Aku mengerti kalau ibu dan bapak muak, bahkan tidak menganggapku sebagai anak lagi. Mungkin itu lebih baik, supaya kalian bisa hidup lebih tenang. Tapi kalau masih ada secercah

