Mereka melanjutkan perjalanan hingga kini telah tiba di salah satu restoran, dengan langkah penuh harap. Tanpa Erika tahu, Alvaro telah menyiapkan kejutan istimewa untuknya, perayaan kecil yang bersemayam di ujung perjalanan mereka. Begitu masuk ke ruang VIP, mata Erika yang tadi tertutup kain mulai dibuka perlahan. "Dalam hitungan ketiga, buka matamu, ya," bisik Alvaro. "Satu ... dua ... tiga ...." Ketika mata Erika terbuka, dunia seketika berputar dalam keheningan yang membekukan. Di depan matanya terbentang pesta kecil penuh warna, dihiasi lilin dan balon, dengan wajah-wajah orang terdekatnya. Ada keluarganya, Sasa, Ambar, bahkan Rein, teman kerjanya itu. Dalam hati Erika bertanya-tanya, entah kapan Alvaro menghubungi mereka semua? Denyut bahagia menyapu hatinya, air matanya menetes

