"Sudah bangun, Sayang?" Om Dirga duduk di sampingku, tangannya segera meraih tanganku dengan lembut. Aku menoleh ke sekeliling—interior mewah dengan kursi kulit berwarna krem, jendela oval yang memperlihatkan langit biru di luar. "Kita... di pesawat?" tanyaku bingung. “Iya, Nak. Tadi kamu ketiduran di mobil jadi digendong sama Dirga," sahut Mama Sania dari kursi di seberang. Beliau tersenyum menenangkan. "Kita sedang menuju Singapura." "Ah, bisa-bisanya aku ketiduran." Aku mencoba duduk, tapi Om Dirga segera menahan pundakku dengan lembut. “Pelan-pelan, jangan terburu-buru.” Om Dirga membenarkan selimut yang menutupi tubuhku. “Kamu masih sering pusing, kan? Dokter sudah memeriksa dan mengizinkan perjalanan ini, asalkan kamu tetap beristirahat.” Mama Sania bangkit dari kursinya dan b

