Rencana Dadakan

1033 Kata

Om Dirga mengajakku keluar kamar setelah Mama Sekar tertidur kembali. Kami melangkah pelan menyusuri lorong rumah sakit hingga pintu kaca otomatis terbuka, memperlihatkan taman kecil di sisi bangunan. Pepohonan hijau yang rindang menaungi area taman, memberi kesan teduh dan menenangkan. Om Dirga menarik salah satu bangku dan duduk, lalu menepuk sisi kosong di sampingnya. Aku ikut duduk, memeluk diri sendiri, menatap kolam kecil di depan kami. “Sayang,” panggilnya pelan. Aku menoleh. “Ada satu hal yang perlu kita bicarakan.” Nadanya terdengar serius, meski sorot matanya tetap lembut. Aku mengangguk. “Apa?” Om Dirga menarik napas dalam, seolah memilih kata dengan hati-hati. “Mama Sekar minta kita menikah besok siang.” Aku terdiam. “Besok?” Suaraku nyaris tak keluar. “Iya.” Om Dirga m

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN