“Sayang, syukurlah kamu sudah sadar. Kamu pingsan lama sekali.” Aku mengedip pelan, mencoba fokus pada ruangan di sekitarku. Bau obat, tirai putih, dan suara mesin monitor membuatku sadar kalau aku sedang berada di rumah sakit. “Berapa lama aku pingsan, Om?” tanyaku lirih. “Hampir tiga jam,” jawab Om Dirga sambil menghembuskan napas panjang. “Rasanya aku kayak orang gila waktu kamu nggak bangun-bangun. Aku—” “Om,” potongku pelan. “Tenang dulu. Aku udah nggak apa-apa, kan?” “Iya, Sayang,” ujarnya sambil mengambil tanganku, menciumi punggungnya berulang kali sebelum menempelkannya ke pipinya. “Jangan bikin aku panik begini lagi, ya.” Aku menggeleng pelan. “Nggak akan.” Hening sesaat. Lalu ada sesuatu yang terlintas di kepalaku. “Om, Mama Sekar di mana?” tanyaku. “Beliau sedang mengu

