Sudah dua hari kepalaku terasa sakit. Potongan-potongan kejadian dari masa kecilku mulai bermunculan seperti puzzle yang perlahan menyusun dirinya sendiri. Aku mulai mengingat masa laluku—ingatan yang sempat hilang. Dimulai dari perlakuan buruk keluarga mama terhadapku. Mereka menganggapku sebagai aib keluarga, beban yang harus disembunyikan. Setiap tatapan sinis, setiap kata kasar, kini kembali menghantui pikiranku dengan jelas. Rasa sakit di kepalaku seakan membuka pintu menuju kenangan yang selama ini kucoba lupakan. "Sayang, minum obat dulu ya," ujar Om Dirga setelah mengangkat telepon dari Mas Farel. Dia berjalan masuk dari balkon. "Nanti aja, Om. Kalau buka mata rasanya kepala makin berputar-putar." Ranjang bergerak ketika Om Dirga duduk di pinggirnya. Dia membenarkan selimutku,

