Kediaman baru kami di kawasan Menteng dipenuhi para pelayat. Lantunan tahlil dan doa-doa bergema di ruang tamu yang luas. Aroma kembang setaman menyatu di udara, menghadirkan suasana duka yang terasa begitu nyata dan mendalam. Aku duduk di sebelah keranda Mama Sekar. Tanganku menggenggam erat tasbih pemberian Mama Sania, sementara bibirku bergerak lirih melantunkan doa-doa untuk beliau. "Nak, kamu harus makan," bisik Mama Sania di sampingku, tangannya mengusap punggungku dengan lembut. Aku menggeleng pelan. "Nanti aja, Ma. Aku belum lapar." Oma duduk di sebelah kanan Mama Sania, matanya yang sudah berkabut karena usia menatapku dengan penuh kasih. "Sayang, kamu harus jaga kesehatan. Mama Sekar pasti tidak mau kamu sakit." Air mataku kembali mengalir. Sejak sampai di Jakarta aku terus

