Pantai Tanjung Benoa di pagi hari terlihat cantik. Langit biru cerah, ombak tenang, dan pasir putih yang membentang luas. Suara tawa wisatawan bercampur dengan deru mesin speedboat di kejauhan. Aku berdiri di tepi pantai, menatap banana boat yang sedang disiapkan oleh para operator. Om Dirga berdiri di sampingku, tangannya melingkar di pinggangku. "Yakin mau coba?" tanyanya lembut. Sudah tujuh hari berlalu sejak acara tujuh harian Mama Sekar. Sejak kami tiba di Bali kemarin, aku masih sering melamun—teringat wajah Mama Sekar, suaranya, dan senyumnya yang hangat meski tengah menahan rasa sakit. "Ayo," jawabku, mencoba tersenyum. Om Dirga menatapku lekat. "Kalau kamu belum siap, kita bisa coba aktivitas." "Tidak. Aku mau coba ini." Kami menaiki banana boat berwarna kuning cerah itu. A

