Honeymoon kami harus berakhir lebih cepat dari rencana. Pagi ini, telepon Mas Dirga berdering berkali-kali—urgent, kata Mas Farel. Ada masalah mendesak terkait aset keluarga Wiranatama yang harus segera diselesaikan. "Maaf, Sayang," kata Mas Dirga sambil mengemas koper kami dengan tergesa. "Kita harus segera ke Solo." Aku mengangguk, meski sedikit kecewa. "Tidak apa-apa. Lagipula ini memang harus diselesaikan." Sejak Bu Kartika dan Naya masuk penjara—terbukti bersalah atas banyak kasus kejahatan—semua aset keluarga Wiranatama resmi menjadi milikku. Aku, pewaris tunggal dari kerajaan bisnis Papa yang begitu besar. Dan kenyataan itu membuatku pusing. *** Sesampainya di Solo, kami langsung menuju kantor pusat Wiranatama Group—gedung megah berlantai delapan di jantung kota. Lift membawa

