Aku terbangun dengan tubuh yang segar meski sedikit pegal. Mataku melirik jam dinding—pukul sebelas malam. Pantas saja kamar sudah gelap, hanya lampu tidur yang menyala redup. "Om Dirga?" panggilku pelan, tanganku meraba sisi ranjang di sebelahku. Kosong. Aku duduk, mengusap mata yang masih agak berat. Kemana dia? Aku ingat setelah seharian bermain wahana air—jet ski, parasailing, bahkan flyboard—kami kembali ke villa sekitar jam lima sore. Aku mandi, lalu berbaring sebentar di ranjang sambil menunggu Om Dirga selesai mandi. Dan rupanya aku ketiduran. Sangat lelap. "Om?" panggilku lagi, kali ini lebih keras. Tidak ada jawaban. Aku turun dari ranjang, mengenakan cardigan tipis. Kamar mandi kosong. Ruang tamu villa juga kosong. Kemana suamiku? Aku berjalan menuju teras kamar yang lan

