Tangis yang berasal dari tempat tidur Altair membuat Jemma memaksa matanya yang berat terbuka, ia sudah siap bergerak bangun saat Althaf lebih dulu bangun dan tersenyum dengan wajah mengantuknya juga, “biar aku saja... tadi sudah nenen kan? paling ini popoknya basah...” Jemma memberi anggukan, “iya...” Meski begitu Jemma tetap terjaga, pandangan matanya menatap punggung suaminya yang mendekati pusat suara tangis putranya. “Anak ganteng, sholeh Ayah.... heboh banget ya... cup-cup! Sini sama Ayah, kita cek... uhm nggak betah ya, basah?” Suara Althaf dengan lembut bersamaan tangan yang mengangkat tubuh Altair. Jemma mengulas senyum mendapati Althaf tidak sulit untuk meringankan tugas mengurus Altair. Hari-hari baru sebagai seorang ibu membawa dunia yang benar-benar berbeda bagi Jemma

