“Altair pintarnya Ota! Sudah bangun, eh enggak nangis ya... malah senyum-seyum.” Suara Mama jadi begitu lembut dan hangat. “Aduh duhh, gemas banget! Iya sabar ya... Sudah kenyang, sama Ota ya...” Jemma tersenyum membiarkan Mama mengangkat Altair, “nanti aku menyusul Ma...” “Menyusul, kayak jauh saja... Masih di rumah, Papamu dan yang lain sudah tunggu kesayangan ini. Udah kamu santai-santai aja." Balas Mama yang kemudian berlalu. Jemma menggeleng pelan, bayi di mana pun keberadaannya akan jadi pusat perhatian. Terutama Altair di rumah orang tuanya. Mama bersungguh-sungguh temani Jemma, setelah sekian lama tidur bersama Jemma dan meski terkantuk-kantuk saat Altair bangun semalam, Mama tetap temani. Rasanya sulit dipercaya bila mengingat bagaimana sikap Mama dulu padanya, yang Jemma ta

