Pagi itu, Japandi House mereka bertambah fungsi sebagai zona latihan maraton. Bukan salah satu cabang olahraga lari, melainkan merangkak untuk kelas bayi. Kemampuan mobilitas Safa resmi naik level, dari nungging sambil maju-mundur di tempat, ke merangkak cepat ala tentara. “Safa, pelan-pelan dong.” Anne terkekeh sambil berusaha mengikuti putrinya yang meluncur dari karpet ruang tengah menuju area engawa. Safa merespons dengan tertawa, lalu menoleh ke belakang sejenak seolah mengecek apakah ibunya masih mengekor, kemudian melanjutkan aksinya dengan menghampiri kotak kayu berisi beberapa boneka. Ia mengambil satu yang berbentuk ulat, menepuk-nepuk mainan itu, dan berujar, “Iii!” Anne tergelak. “Kok malah ‘iii’? Kan ulatnya lucu, Fa. Bukan jijik.” “Iii,” sahutnya. Safa bergeser lagi. Kal

