“Bayinya Ibun cantik sekali,” ujar Anne seraya mengecup kedua pipi Safa. Ia kemudian melanjutkan kesibukannya, memeriksa satu per satu perlengkapan yang sudah disiapkan untuk kunjungan kedua Safa ke Poli Anak. Ben keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah dan handuk kecil yang melingkar di leher. “Jam berapa kita berangkat, baby?” tanyanya sambil meraih kaus putih bertema salah satu anime favoritnya. Anne menoleh. “Kita?” balasnya. “Kamu ngga kerja?. Aku bisa kok sama Mama aja.” Ben membeku sejenak, kerah kaus menyangkut di kepalanya. Anne sontak tergelak. “Kamu ngapain sih?” Kaus itu Ben tarik, ia kenakan dengan semestinya. “Ngga bisa gitu dong, baby.” “Apa yang ngga bisa?” “Aku kan ayahnya Safa.” “Ngga usah tes DNA juga semua orang tau fakta itu, Ben.” “Maksud aku.

