KEHIDUPAN BARU

2115 Kata

Taksi meluncur menembus jalanan basah bekas hujan deras singkat yang baru saja reda. Lalu-lintas padat, tersendat karena volume kendaraan yang cukup ramai dan motor-motor yang berusaha menghindari genangan air. Di kursi penumpang, Anne menggenggam jemari Elisa kuat-kuat. Napasnya naik-turun tak beraturan kala gelombang nyeri mencapai puncak. Seterlatih apa pun ia soal mengatur napas, sakit yang mendera membuatnya kewalahan menerapkan ilmu. “Sakit banget, ya Nyong? Gue suruh sabar pun ngga guna deh pasti,” lirih Elisa. “Sebentar lagi kita sampai kok. Ampun Tuhan, perlu turun apa ya gue biar pada minggir orang-orang?” Suaranya bergetar meski berusaha tegar, matanya berembun—tak tega melihat Anne menahan nyeri. Tangannya tak henti mengusap pinggang Anne. Anne tak menjawab, matanya menatap k

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN