Tim Rival menumpuk di depan gudang tua di tepi kota. Mereka bersenjata lengkap dan siap menghadapi serangan. Nina bergerak dia antara timnya, memberikan perintah singkat dengan tegas. Sementara itu, Elang berdiri di sudut ruangan, mengamati situasi dengan raut wajah yang sulit dibaca. "Jumlah mereka lebih banyak dari yang kita perkirakan," gumam NIna sambil menyeka keringat di dahinya. "Kita tidak bisa menang kalau terus-terusan begini." Elang menatap Nina dengan tenang. "Kita harus bertahan. Jangan biarkan mereka tau kalau kita goyah." Dor! Tembakan mulai menghunjani ruangan, memaksa Nina dan timnya berlidung di balik peti-peti tua. "Kita butuh rencana, Elang," serunya. "Kalau tidak, kita semua mati di sini." "Apa kamu yakin?" "Tentu saja. Bagaimana kita bisa bertahan dengan sit

