Pesawat akhirnya mendarat mulus di landasan, roda-roda besarnya menyentuh aspal dengan hentakan halus yang membuat Clara tersadar sepenuhnya. Ia membuka mata perlahan, napasnya tertahajn sesaat ketika melihat pemandangan di luar jendela. Langit Turki membentang dengan warna biru pucat yang berbeda dari langit mana pun yang pernah ia lihat sebelumnya. Ada perasaan asing, namun menenangkan, menyelinap ke dadanya. Clara menoleh ke samping. Jevian sudah membuka sabuk pengamannya, menatap ke luar jendela dengan ekspresi tenang, seolah kedatangan mereka ke negara asing ini adalah hal yang sanugat biasa baginya. Namun ketika ia menyadari tatapan Clara, Jevian langsung tersenyum kecil. “Kita sudah sampai,” ucapnya. Clara mengangguk pelan. Senyum di wajahnya tidak bisa ditahan. Ada rasa lega, ba

