Pagi itu halaman rumah terasa berbeda. Bukan karena cuaca attau cahaya matahari yang jatuh lembut di atas marmer halaman, melainkan karena ada rasa berangkat yang begitu nyata di udara. Clara berdiri di dekat koper-koper yang sudah tersusun rapi, matanya menelusuri satu per satu barang yang akan ikut bersama mereka ke Turki. Ada koper besar berwarna gelap milik Jevian, koper berwarna krem miliknya, juga beberapa tas tambahan yang berisi barang-barang penting. Semuanya tampak siap, seolah perjalanan ini memang sudah lama menunggu untuk terjadi. Clara menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang terasa lebih cepat dari biasanya. Setiap kali matanya berhenti di satu koper, bayangan tentang perjalanan panjang, langit asing, dan tempat baru langsung memenuhi kepalanya. Turk

