Jeremy menutup berkas yang sedang ia baca ketika melihat Jevian masuk. Senyum kecil muncul di wajahnya, namun langsung memudar ketika melihat raut wajah putranya yang begitu tertekan. Jevian menjatuhkan diri ke sofa panjang di ruang kerja itu, menunduk sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Jeremy berkata pelan, “Kamu kelihatan capek sekali. Ada apa lagi, Jev?” Jevian mengangkat wajahnya dengan mata merah karena menahan emosi. “Pa… aku benar-benar sudah nggak sanggup. Mama makin parah. Dia terus ngejar Clara. Dia terus nyindir, terus bicara hal-hal yang bikin Clara terluka. Pa, aku takut Clara menjauh. Aku takut kehilangan dia.” Jeremy menghela napas panjang, lalu berdiri dan berjalan mendekati putranya. “Papa tahu. Papa sudah coba bicara baik-baik sama Mama. Tapi kamu tahu sendi

