Apartemen Yeri berada di lantai tinggi dengan pemandangan kota yang gemerlap. Lampu-lampu masih menyala terang meski malam sudah larut. Pintu itu terbuka bahkan sebelum Jevian sempat menekan bel, seolah Yeri sudah menunggu sejak lama. “Jevian!” seru Yeri dengan wajah berseri. Tanpa memberi waktu, Yeri langsung memeluknya erat, seakan mereka adalah pasangan yang baru saja lama berpisah. Aroma parfum mahal menyergap, membuat Jevian refleks menegang. “Yeri,” ujar Jevian dingin. Ia mendorong tubuh Yeri menjauh. Tidak keras, tapi cukup tegas hingga Yeri terhuyung satu langkah ke belakang. “Jangan sentuh aku.” Senyum Yeri memudar. “Kamu kenapa? Kamu marah karena hal sepele itu lagi?” “Ini bukan sepele,” jawab Jevian datar. “Dan aku ke sini bukan untuk berbasa-basi.” Yeri menutup pintu, l

