Kesadaran itu datang perlahan, seperti kabut yang terangkat sedikit demi sedikit dari benak Clara. Kepalanya terasa berat, nyeri berdenyut di pelipisnya. Bau lembap dan anyir menusuk hidungnya, membuat dadanya sesak. Saat kelopak matanya terbuka, yang pertama kali ia lihat hanyalah kegelapan yang retak oleh cahaya redup dari satu lampu gantung tua yang bergoyang pelan. Gudang. Itu kesan pertama yang tertangkap pikirannya. Dinding-dindingnya kusam, cat mengelupas, penuh bekas air dan jamur. Lantai semen dingin menyentuh punggungnya. Tangannya terikat di belakang, membuatnya sulit bergerak. Tenggorokannya kering, seperti tidak diberi air berhari-hari. “Di mana… ini…” suaranya serak, hampir tidak terdengar. Tawa kecil menggema, pelan tapi tajam, memantul di dinding gudang yang kosong. C

