Kesadaran Clara kembali sepenuhnya saat rasa dingin menembus kulitnya. Tubuhnya terbaring di atas tanah hutan yang lembap, ditutupi daun-daun kering dan ranting kecil. Udara pagi masih dingin, kabut tipis menggantung di antara pepohonan tinggi. Cahaya matahari belum sepenuhnya menembus kanopi hutan. Kepalanya terasa berat, pandangannya berkunang-kunang. Clara mengerang pelan, mencoba menggerakkan jari-jarinya. Butuh beberapa detik sampai ia benar-benar sadar bahwa ia tidak lagi berada di gudang. Tidak ada dinding, tidak ada atap seng, tidak ada suara langkah kaki Yeri. Hanya hutan. Hutan yang asing, luas, dan menakutkan. “Di mana… aku?” bisiknya lirih, suaranya serak karena tenggorokannya kering. Ia mencoba bangkit, namun tubuhnya langsung goyah. Lututnya hampir menyerah, membuatnya k

