Clara berjalan di sisi Jevian dengan langkah kecil dan ragu. Tangannya mencengkeram lengan pria itu seolah jika dilepas satu detik saja, dunia akan runtuh di hadapannya. Kafe yang mereka datangi sebenarnya tidak ramai, bahkan terbilang tenang, tapi bagi Clara, setiap pasang mata terasa seperti sorotan tajam yang siap menusuk. Begitu pintu kaca kafe terbuka, Clara refleks berhenti. Jevian menoleh. “Kita bisa pulang kalau kamu belum siap,” ucapnya pelan, suaranya rendah, tidak memaksa. Clara menggeleng kecil, meski napasnya terdengar berat. “Aku… aku mau coba,” katanya lirih. “Tapi… kalau aku tiba-tiba panik—” “Aku ada di sini,” potong Jevian cepat. “Aku nggak ke mana-mana. Pegang aku.” Clara mengangguk dan kembali melangkah. Tatapannya langsung menunduk ke lantai, menghindari wajah s

