Clara masih belum berani melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu. Kamar tamu di rumah keluarga Handstone terasa terlalu luas, terlalu sunyi, dan terlalu asing baginya. Tirai jendela selalu tertutup rapat. Bahkan ketika pagi datang dengan cahaya matahari yang hangat, Clara memilih membiarkan ruangan itu tetap temaram, seolah dunia di luar sana adalah sesuatu yang tidak aman untuk dihadapi. Ia duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya sendiri. Matanya kosong menatap lantai kayu yang bersih dan mengilap. Rumah ini mewah, nyaman, dan penuh perlindungan, tetapi rasa aman itu belum sepenuhnya mampu menembus ketakutan yang bersarang di dadanya. Sejak kejadian penculikan itu, sejak foto-foto palsu tersebar, dan sejak Yeri terbukti bisa lolos dari jerat hukum dengan mudah, Clara merasa dunianya

