Malam itu, Clara pulang dari kafe dengan langkah kaki yang sudah pelan karena lelah. Hari itu sangat sibuk, dan tubuhnya terasa seperti ingin roboh kapan saja. Jalan kecil menuju kontrakannya tampak sepi, hanya diterangi lampu jalan yang temaram. Clara merapatkan jaket tipisnya, tidak menyangka bahwa seseorang sedang mengintai dari sudut gelap. Dua pria berjaket hitam berdiri tidak jauh dari sana, saling memberi kode satu sama lain. “Apa itu dia?” bisik salah satu. “Iya. Foto dari Vanessa persis seperti itu. Biar cepat, kita kerjakan sekarang,” jawab yang lain dengan nada santai seolah ini pekerjaan biasa. Clara tidak menyadari apa pun hingga sebuah tangan kasar tiba-tiba menutup mulutnya dari belakang. “Jangan teriak, manis,” kata salah satu pria dengan suara rendah sambil menarik tu

