Jevian keluar dari mobilnya dengan langkah berat. Malam itu angin cukup kencang, namun bukan itu yang membuat dadanya sesak—melainkan foto-foto yang dikirim Vanessa. Ia berdiri beberapa detik di depan kontrakan kecil Clara sebelum akhirnya mengetuk pintu. Tok… tok… tok… Clara, yang baru saja selesai mandi dan mengenakan sweater lusuhnya, membuka pintu. Ia terkejut melihat wajah Jevian yang tampak tegang. “Jevian? Kamu kenapa? Masuk dulu,” ucapnya cemas. Namun Jevian tidak langsung masuk. Ia menatap Clara dalam-dalam, seolah mencoba membaca kebenaran di wajahnya. “Kita perlu bicara,” katanya lirih. Clara menelan ludah. “Oke… ayo masuk.” Begitu pintu tertutup, Jevian tidak duduk. Ia berdiri sambil mengeluarkan ponselnya. “Clara, aku… aku butuh penjelasan.” Jemarinya gemetar sedikit.

