Clara terbangun ketika langit masih berwarna abu pucat. Jam di meja samping ranjang baru menunjukkan pukul lima lewat sedikit. Udara kamar masih dingin, sunyi, dan sangat tenang. Ia menoleh ke samping. Jevian masih tertidur. Rambut pria itu sedikit berantakan, napasnya teratur, wajahnya tampak lelah namun damai. Clara menatapnya cukup lama, seolah memastikan bahwa pria itu benar-benar ada di sana, bukan bagian dari mimpi. Perlahan, ia menggeser tubuhnya mendekat. Tangannya terangkat ragu, lalu berhenti sejenak di udara. “Boleh… kan?” gumamnya sangat pelan, lebih pada dirinya sendiri. Ia lalu mencondongkan tubuh, menempelkan bibirnya pelan di pipi Jevian. Ciuman singkat. Lembut. Hati-hati. Jevian bergerak sedikit dalam tidurnya, mengerang pelan, tapi tidak terbangun. Clara terseny

