Clara duduk bersandar di sofa ruang keluarga dengan lutut ditekuk dan selimut tipis menutupi kakinya. Televisi menyala tanpa suara. Tangannya saling meremas pelan, jari-jarinya bergerak gelisah, seperti ada sesuatu yang ingin ia katakan tapi tertahan di tenggorokan. Di dapur, Jevian sedang menuang air minum. Ia melirik ke arah Clara berkali-kali. Ia hafal betul raut itu. Raut saat Clara sedang menginginkan sesuatu, tapi pikirannya dipenuhi ketakutan untuk menyampaikannya. Jevian mendekat, lalu duduk di lantai tepat di hadapan Clara agar posisi mereka sejajar. “Kamu kelihatan mikir berat,” katanya pelan. Clara menggeleng cepat. “Nggak… cuma biasa aja.” Jevian tidak memaksa. Ia tahu, jika ditekan, Clara justru akan menutup diri. Beberapa detik berlalu dalam diam. “Jev…” suara Clara s

