Pagi itu udara terasa lebih hangat dari biasanya. Clara berdiri di depan cermin kamar, menatap bayangannya sendiri. Wajahnya tampak lebih segar dibanding beberapa minggu lalu, meski sorot matanya masih menyimpan kehati-hatian. Ia merapikan rambutnya perlahan, menarik napas panjang, lalu menghembuskannya pelan seolah sedang menenangkan diri. Jevian berdiri di belakangnya, menyandarkan bahu ke kusen pintu, memperhatikan setiap gerakan Clara tanpa mengeluarkan suara. Ada senyum tipis di wajahnya, senyum yang penuh keyakinan. “Kamu sudah siap?” tanya Jevian akhirnya, suaranya lembut, tidak mendesak. Clara menoleh perlahan. “Siap… tapi juga gugup.” Jevian mendekat, berdiri tepat di belakang Clara, lalu menatap pantulan mereka di cermin. “Kamu tidak perlu takut. Hari ini bukan soal harus mem

