Carden duduk di lantai yang dingin, punggungnya bersandar pada dinding beton tebal yang tak memiliki jendela. Ruangan itu pengap, remang, dan hanya diterangi satu lampu kecil di langit-langit. Bau lembap bercampur debu memenuhi udara. Tangan Carden terikat dengan borgol baja berat—namun tak ada sesuatu pun yang lebih berat dari rasa frustrasi yang bergemuruh di rongga dadanya. Ia mendecak keras, sangat keras, sampai suaranya memantul di dinding. “Bangs*t…” gumamnya dengan napas kasar. Benaknya penuh dengan rasa marah, dendam, dan hinaan pada dirinya sendiri. Dia, Carden—lelaki yang selama ini ditakuti banyak orang—sekarang hanya duduk di ruangan kecil ini seperti tawanan tak berharga. Semua karena Jeremy. Semua karena Jevian. Semua karena CLARA. Nama itu membuat rahangnya mengeras, mata

