Pagi itu, Clara sama sekali tidak menyangka bahwa hidupnya akan berubah begitu drastis hanya karena sebuah undangan kecil dari Briana. Setelah sarapan yang kembali diawasi Jevian—bahkan sampai suhu air minum pun diperiksa dua kali—Briana datang dengan pakaian olahraga mewah, rambut disanggul rapi, wajah tanpa cela, dan senyum yang tampak begitu bersemangat. “Clara, sayang,” kata Briana sambil memegang tangan Clara. “Kita ikut kelas yoga hari ini, ya.” Clara menoleh cepat, tanpa sempat menyembunyikan keterkejutannya. “Yoga, Mama?” “Ya. Dokter bilang kamu perlu olahraga ringan setelah sembuh dari tifus. Yoga sangat bagus untuk pemulihan stamina.” Clara tersenyum kaku. “Tapi… aku belum pernah yoga.” “Nanti belajar,” jawab Briana santai. “Yang penting kamu ikut.” Jevian yang baru saja me

