Pagi itu datang dengan cara yang berbeda. Tidak ada suara alarm yang memaksa, tidak ada ketergesaan, hanya cahaya matahari Cappadocia yanhg perlahan menyusup masuk melalui celah tirai tipis kamar hotel. Langit di luar masih bergradasi lembut, biru pucat bercampur semburat jingga, tanda pagi baru saja membuka matanya. Clara terbangun lebih dulu. Ia mengerjap beberapa kali, masih setengah sadar, lalu menyadari satu hal yang membuat bibirnya otomatis melengkung. Ia masih berada di pelukan Jevian. Lengan suaminya melingkar di pinggangnya dengan posisi protektif, seolah Clara adalah sesuatu yang berharga dan tak boleh lepas bahkan saat tidur. Clara menahan napas sejenak. Ada rasa hangat yang aneh, campuran bahagia, gugup, dan haru. Ini bukan mimpi. Ia benar-benar sudah menikah. Ia benar-bena

