Mata Jevian perlahan terbuka, kelopak matanya yang berat berkedip, menyesuaikan diri dengan cahaya remang-remang yang menyusup dari celah gorden. Kehangatan lembut memeluknya, bukan dari selimut tebal, melainkan dari tubuh yang berbaring rapat di sampingnya. Ia memiringkan kepala, upandangannya jatuh pada wajah Clara, istrinya, yang masih terlelap dalam tidur nyenyak. Rambut cokelat gelapnya tersebar di bantal, beberapa helai menutupi sebagian wajahnya, menciptakan bayangan lembut yang mempertegas lekuk pipinya. Bibir penuhnya sedikit terbuka, napasnya berembus pelan dan teratur, sebuah melodi menenangkan yang mengisi keheningan pagi. Jevian membiarkan matanya menjelajahi setiap inci wajah Clara, dari dahi mulusnya hingga dagu lancipnya. Ada ketenangan yang begitu mendalam terpancar dari

