Clara sedang berjalan perlahan di koridor rumah sakit, tangannya masih memegangi lengan Jevian yang sigap mengiringinya. Mata Clara menatap setiap sudut koridor, masih takut melihat sesuatu yang mencurigakan. Jevian berjalan di sisi lainnya, penuh kewaspadaan, matanya menyapu seluruh lorong. “Tenang, Clara. Aku di sini, tidak ada yang bisa menyakitimu,” ucap Jevian sambil menatap wajah Clara yang pucat karena ketegangan. Clara mengangguk pelan, napasnya bergetar. “Aku… aku harap… tidak ada yang muncul lagi.” Jevian menepuk lembut bahunya. “Aku tidak akan membiarkan siapapun mendekatimu. Tidak sekarang, tidak pernah.” Namun di sudut lorong lain, Yeri yang kini menyamar menjadi seorang perawat, melangkah dengan tenang. Topi perawat menutupi sebagian wajahnya, masker menutup mulut dan hid

