Malam sudah benar-benar turun. Lampu rumah sakit menyala terang, membuat lorong tampak sunyi dan dingin. Suara langkah perawat terdengar sesekali, diselingi bunyi alat medis dari kamar-kamar pasien. Jevian duduk di kursi panjang tepat di depan kamar rawat. Jaket hitamnya masih melekat di tubuh, padahal keringat dingin terus muncul di pelipisnya. Tatapannya kosong, sesekali mengarah ke pintu kamar tempat Papa dan Mamanya dirawat. Clara duduk di sampingnya, membawa wadah buah yang tadi ia potong di pantry kecil rumah sakit. Ia melirik Jevian berkali-kali. “Kamu belum duduk dari tadi,” kata Clara akhirnya. Jevian menggeleng pelan. “Aku nggak bisa tenang kalau duduk terlalu lama.” “Kamu capek,” Clara menegaskan. “Aku nggak apa-apa.” Clara menarik napas pelan. “Kamu bohong.” Jevian terd

