Briana masih belum bisa duduk tenang di sofa besar ruang keluarga. Kakinya mondar-mandir sejak tadi sambil terus memikirkan sesuatu yang bahkan sulit ia jelaskan. Jeremy dan Lolita hanya bisa saling pandang, berusaha memahami kecemasan wanita itu yang sudah jauh melebihi batas wajar seorang Mama pada putranya. Briana mengusap wajahnya kasar, napasnya naik turun, seperti baru saja berlari. Ia menggeleng berkali-kali, namun bayangan buruk terus datang menghantam kepalanya. “Aku tidak pernah menyuruh siapa pun memata-matai Jevian dan Clara,” ucap Briana dengan suara parau dan ketakutan yang jelas. “Tapi kenapa ada yang kirim foto-foto itu? Kenapa ada orang yang mengikuti mereka? Apa untungnya untuk mereka? Apa tujuan orang-orang itu?” Lolita menelan ludah. “Mama tenang dulu… mungkin hanya o

