Rumah kayu itu terasa hangat meski udara di luar dingin. Begitu pintu ditutup, aroma kayu pinus langsung menyelimuti ruangan. Interiornya sederhana namun tertata rapi. Perapian berada di sudut ruang tamu, sofa berwarna netral menghadap jendela besar yang memperlihatkan pegunungan. Clara berdiri di dekat pintu, masih mengenakan jaketnya. Matanya berkeliling, menyerap setiap sudut ruangan seperti ingin memastikan semuanya nyata. Jevian meletakkan kunci di meja kecil. “Kamar ada di lantai atas. Yang dekat jendela.” Clara mengangguk, tapi kakinya tidak bergerak. “Kamu kelihatan capek,” lanjut Jevian. “Naik saja dulu. Rebah sebentar.” Clara menggeleng pelan. “Aku nggak mau tidur.” “Aku nggak bilang tidur,” jawab Jevian. “Istirahat.” Clara memeluk lengannya sendiri. “Aku takut kalau

