Pagi itu udara Swiss terasa jauh lebih sejuk dari hari-hari sebelumnya. Langit cerah, tidak menyilaukan, dan cahaya matahari menyentuh pegunungan dengan lembut. Clara berdiri di depan jendela kamar, menatap pemandangan luar dengan mata yang tenang, meski masih ada kehati-hatian di sorotnya. Jevian berdiri di belakangnya, tidak langsung mendekat. Ia tahu, setiap langkah kecil Clara harus dihormati. “Kita berangkat setelah kamu siap,” ucap Jevian pelan. Clara menoleh. “Kita beneran ke Interlaken hari ini?” “Iya,” jawab Jevian sambil mengangguk. “Aku pengin kamu lihat tempatnya langsung.” Clara ragu sejenak. “Ramai nggak?” Jevian mendekat satu langkah. “Ada orang, tapi nggak sesak. Banyak alam. Dan… nggak ada yang mengenal kita.” Clara menarik napas dalam. “Kalau aku tiba-tiba pen

