Kamar itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Lampu tidur menyala redup, memantulkan cahaya hangat ke dinding berwarna krem. Clara berbaring miring, memeluk bantal, menatap langit-langit tanpa benar-benar melihat apa pun. Napasnya teratur, tapi pikirannya tidak. Jevian tidak ada di kamar. Lelaki itu masih berada di ruang kerjanya, menyelesaikan beberapa urusan yang katanya tidak bisa ditunda. Clara sebenarnya tidak keberatan. Ia justru merasa butuh waktu sendiri. Percakapan makan malam tadi kembali terulang di kepalanya. Bulan madu. Kata itu terasa berat sekaligus asing. Clara memejamkan mata, lalu membukanya kembali. Tangannya bergerak meraih ponsel di samping bantal. “Bulan madu…” gumamnya pelan. Ia membuka layar ponsel, jari-jarinya sedikit ragu sebelum akhirnya mengetik di kolom pe

