Mereka akhirnya duduk di sebuah restoran yang letaknya tidak jauh dari taman kecil tadi. Restoran itu tidak terlalu mewah, tapi ramai. Meja-meja kayu tertata rapi, aroma rempah memenuhi udara, dan suarag orang-orang bercampur dengan denting sendok serta gelas. Tempat itu terasa hidup, seperti denyut kota yang tidak pernah benar-benar diam. Clara duduk tepat di depan Jevian. Begitu pelayan dahtang membawa pesanan, matanya langsung melebar. Di atas meja diletakkan sebuah nampan besar, jauh lebih besar dari yang Clara bayangkan. Di tengahnya terhampar nasi khas Turki yang berwarna putih pucat dengan butiran panjang, mengepul hangat. Di atas nasi itu bertumpuk potonggan daging—ayam yang dipanggang kecokelatan, irisan kambing dengan bumbu pekat, dan saus yang mengkilap, mengalir di sela-sela

