Pagi itu akhirnya berjalan dengan ritme yang lebih pelan bdari rencana awal Jevian. Matahari sudah naik cukup tinggi ketika Clara masih bergelung di balik selimut hotel, rambutnya berantakan, wajahnya setengah tersembunyi bantal, dengan napas yang masih berat tanda tubuhnya benar-benar kelelahan. Jevian duduk di tepi ranjang, menatap istrinya cukup lama, seolah menimbang antara keinginannya menjelajah kota lagi dengan rasa kasihan yang menekan dadanya. Ia tahu betul bagaimana Clara kemarin. Terlalu memaksakan diri, terlalu bersemangat, berjalan terlalu jauh sambil menahan pegal yang akhirnya baru keluar ketika mereka sudah tiba di hotel. Dan pagi ini, meski Clara mencoba bangun dengan senyum kecil dan berkata ia baik-baik saja, Jevian bisa melihatnya. Dari cara Clara menggerakkan kakinya

