Pagi itu, Briana duduk di ruang tengah dengan wajah yang kusut. Secangkir kopi di meja sudah dingin sejak satu jam yang lalu, tapi Briana bahkan tidak sadar. Ia hanya menatap layar ponselnya, membuka-buka pesan dari Vanessa yang belakangan ini terasa semakin membuatnya gelisah. Wanita itu terlalu percaya diri, terlalu pamer, terlalu menikmati permainan yang sebenarnya hanya ia inginkan sebagai strategi sementara. Namun kini Vanessa bertingkah seperti seseorang yang benar-benar ingin memiliki Jevian. Dan itu membuat Briana ketakutan. Dia tahu Vanessa cantik, memesona, dan tahu cara memanipulasi situasi. Dia juga tahu anaknya, Jevian, terlalu baik hati hingga mudah dimanfaatkan. Sementara Clara… gadis manis itu mulai makin menjauh sejak kejadian malam saat Jevian mendatangi rumah Vanessa.

