Pagi itu, mentari baru saja naik saat Arsenio sudah bersiap di kantor. Setelan jas rapi membungkus tubuhnya, namun matanya terlihat lelah—bukan karena kurang tidur, melainkan karena semalaman ia dan Mikayla benar-benar saling melampiaskan rindu dan gairah. Ruang meeting terasa lebih dingin dari biasanya. Arsenio duduk di kursi utama, mendengarkan laporan dari manajer utama terkait ekspansi perusahaan ke kota besar di luar daerah. Proposal bisnis diulas dengan detil, target angka penjualan dipresentasikan, rencana pembukaan cabang baru didiskusikan penuh antusias. Namun di sela-sela suara presentasi, kepala Arsenio justru melayang pada Mikayla yang masih tertidur pulas di apartemen. Salah satu direktur membuka topik penting. “Pak Arsenio, kita membutuhkan kehadiran Bapak setidaknya satu m

