Satu bulan kemudian...
Gavin mengetuk-ngetukkan pena mahalnya ke meja, matanya tak lepas dari pintu kaca ruangannya. Selama empat minggu terakhir, ia telah menyiapkan berbagai kalimat kasar untuk menolak Gwiyomi jika wanita itu mencoba menggodanya lagi. Ia sudah bersiap untuk merasa menang.
Namun, yang terjadi justru di luar perkiraan.
Pintu terbuka. Gwiyomi masuk dengan blazer formal yang kancingnya tertutup rapat hingga kerah. Rambutnya disanggul rapi tanpa menyisakan satu helai pun yang berantakan. Tidak ada aroma mawar yang menggoda, tidak ada bisikan di telinga, dan tidak ada sentuhan di bahu.
“Ini laporan audit proyek mangkrak di Subang, Pak Gavin. Ada selisih dana sekitar 15% yang perlu Anda jelaskan pada Pak Frans besok pagi,” ucap Gwiyomi dengan nada bicara yang sangat datar, seolah mereka tidak pernah berbagi napas di ruangan ini sebulan yang lalu.
Gavin menatap berkas itu, lalu menatap wajah Gwiyomi yang tanpa ekspresi.
“Hanya ini?”
Gwiyomi mengerutkan kening, tampak bingung. “Ya. Apa ada dokumen lain yang Anda butuhkan, Pak?”
“Kamu... tidak ingin mengatakan hal lain?” tanya Gavin, suaranya sedikit serak. Ia benci betapa ia merindukan seringai iblis wanita ini.
Gwiyomi terdiam sejenak, lalu tersenyum sopan, senyum formal yang biasa ia berikan pada klien. “Ah, saya hampir lupa. Selamat atas ulang tahun pernikahan Anda dan Vanka akhir pekan ini. Vanka sudah mengundang saya ke acaranya. Saya permisi.”
Gwiyomi berbalik dan melangkah keluar dengan suara sepatu hak tinggi yang berirama tegas.
Gavin mencengkeram kursinya. Sialan. Selama sebulan ini dia merasa gila memikirkan ciuman itu, sementara Gwiyomi? Wanita itu benar-benar menganggapnya tidak lebih dari sekadar atasan yang bermasalah.
Ia mengira setelah ciuman beringas di ruangannya waktu itu, Gwiyomi akan kembali menjadi wanita yang mengejarnya, atau setidaknya menunjukkan sedikit emosi. Namun, kenyataannya justru memuakkan. Gwiyomi bertransformasi menjadi sekretaris eksklusif yang sangat sempurna dan sangat dingin.
Di kantor, ia hanya bicara soal angka, audit, dan proyek. Di depan Frans, ia adalah kerabat yang manis. Di depan Vanka, ia adalah teman curhat yang suportif. Gavin merasa seperti hantu di perusahaannya sendiri.
Gavin merasa seperti anjing yang dilempari tulang, lalu tulangnya ditarik kembali sebelum sempat ia gigit. Dan itu jauh lebih menyakitkan daripada makian mana pun.
Malam ini, rasa penasaran dan egonya yang terluka mencapai batas. Gavin mengemudikan mobilnya membelah kemacetan Jakarta, membuntuti mobil Gwiyomi hingga ke sebuah gedung apartemen mewah di kawasan Jakarta Selatan.
Gavin melangkah keluar dari lift di lantai 22. Ia memperbaiki kerah kemejanya, mencoba mencari alasan logis. Pekerjaan. Ya, ada berkas yang mendesak.
Ia menekan bel dengan tidak sabar. Saat pintu terbuka, aroma mawar yang sama langsung menyerbu indranya. Gwiyomi berdiri di sana, hanya mengenakan jubah mandi sutra berwarna gading yang tipis. Rambutnya basah, menunjukkan ia baru saja selesai mandi.
"Pak Gavin?" Gwiyomi menaikkan satu alisnya, tidak tampak terkejut sama sekali. "Bertamu ke apartemen sekretaris jam sembilan malam? Apa ini bagian dari layanan eksklusif perusahaan?"
Gavin merangsek masuk sebelum Gwiyomi mempersilakannya. Ia menutup pintu dengan kakinya dan menyudutkan Gwiyomi di lorong masuk.
"Jangan bermain-main denganku, Gwi. Satu bulan kamu bersikap seolah aku ini orang asing," desis Gavin, matanya menatap lapar pada leher putih Gwiyomi yang masih lembap.
Gwiyomi terkekeh, tangannya bersedekap di d**a. "Bukankah itu yang Anda inginkan, Pak? Profesionalitas?"
Gavin mencengkeram bahu Gwiyomi, menariknya mendekat hingga mereka kembali bersentuhan. Pikirannya melayang pada ingatan lima tahun lalu.
Dulu, Gavin-lah yang akan menunggu berjam-jam di depan gerbang kampus hanya untuk memberikan segelas kopi kesukaan Gwiyomi. Ia pernah menjadi pria yang rela berkelahi dengan siapa pun yang berani menggoda Gwiyomi. Gavin pernah begitu memuja wanita ini, merencanakan masa depan di mana ia akan membangun kerajaan bisnis untuk mereka berdua. Sebelum akhirnya, egonya dan tuntutan keluarganya menuntutnya untuk memilih tahta di atas cinta rakyat jelata. Ia mengkhianati Gwiyomi, namun ia tidak pernah benar-benar bisa melepaskannya.
"Aku tahu kamu masih menginginkanku, Gwi. Berhenti berpura-pura," ujar Gavin serak, wajahnya turun hendak mencari bibir yang sudah sebulan ini menghantui mimpinya.
Namun, Gwiyomi tidak memejamkan mata. Ia justru melirik jam tangan perak di pergelangan tangan Gavin.
"Gavin, hentikan," ucap Gwiyomi tenang, namun ada nada peringatan di sana.
"Kenapa? Kamu takut tidak bisa menahan diri?"
Gwiyomi tersenyum manis yang membuat bulu kuduk Gavin berdiri. "Bukan. Aku hanya ingat jadwal penerbangan Frans. Dia baru saja mendarat di Soekarno-Hatta tiga puluh menit yang lalu. Dan karena ia tidak membawa mobil, aku sudah berjanji akan menjemputnya di lobi apartemen ini dalam sepuluh menit."
Gavin membeku. Cengkeramannya mengendur. "Frans... ke sini? Malam ini?"
Gavin selalu membenci fakta bahwa Frans memiliki segalanya tanpa perlu berkeringat sehebat dirinya. Sementara Gavin harus bergelut dengan politik kantor yang kotor setiap hari di Jakarta, Frans justru hidup dengan tenang sebagai dosen senior di Singapura.
Pria itu adalah seorang Associate Professor di bidang Hukum Bisnis Internasional—gelar yang membuatnya dipandang sebagai otak di keluarga Mahendra. Jabatan akademisnya di Singapura bukan hanya soal gengsi, tapi juga tameng kekuasaan. Frans hanya perlu berada di Singapura dari Senin hingga Kamis untuk mengajar di sana, lalu kembali ke Jakarta setiap akhir pekan untuk memerankan sosok sepupu idaman yang bijak.
"Singapura-Jakarta hanya sepelemparan batu, Gavin. Dia merindukan wanita kesayangannya ini bukan?" Gwiyomi mengusap pipi Gavin dengan ujung jarinya yang dingin. "Dan seingatku, Frans sangat benci jika sepupu manisnya ini mengganggu urusan profesional bawahannya di jam istirahat. Kamu ingin aku menelponnya agar dia segera naik ke sini atau kamu segera pergi ke pintu darurat?"
Gavin tidak bergerak satu inci pun. Alih-alih merasa takut dengan ancaman nama Frans, ia justru tertawa rendah.
"Pintu darurat? Kamu pikir aku serendah itu, Gwi?" Gavin merangsek maju, menyambar tengkuk Gwiyomi, memaksa wanita itu mundur hingga tubuhnya terbentur meja pantry dapur yang dingin. "Kamu pikir satu bulan pengabaianmu bisa membuatku jinak? Kamu salah besar."
Gavin mengurung tubuh Gwiyomi dengan kedua tangannya di sisi meja. Wajahnya mendekat, hidung mereka bersentuhan, membiarkan napas panasnya beradu.
"Ingat apartemen kecil kita dulu di dekat kampus?" bisik Gavin serak, matanya menatap bibir Gwiyomi dengan intensitas yang menyakitkan. "Saat kamu akan memasak mie instan di tengah malam dan aku akan memelukmu dari belakang seperti ini? Saat kamu bilang tidak ada pria lain yang bisa membuatmu merasa aman selain aku?"
Tangan Gavin merayap ke pinggang Gwiyomi, menarik jubah mandi sutra itu hingga ikatannya sedikit melonggar. "Kamu masih memakai parfum yang sama, Gwi. Kamu masih menyimpan kenangan itu di balik topeng sekretaris sialanmu ini."
Hati Gwiyomi berdesir hebat. Untuk sepersekian detik, benteng pertahanannya retak. Ingatan tentang Gavin yang dulu, sosok Gavin yang lembut, Gavin yang memujanya dengan tulus muncul seperti hantu. Matanya sedikit sayu, tangannya nyaris terangkat untuk membalas pelukan pria itu.
Namun, tepat saat bibir Gavin nyaris menyentuh lehernya, suara kode akses pintu apartemen berbunyi.
Pip-pip-pip-bip!
"Gwi? Kamu di dalam? Ini aku, Frans."
Gavin membeku dengan tangan yang masih meraba paha Gwiyomi, sementara Gwiyomi langsung mendorong d**a pria itu dengan kekuatan yang muncul dari rasa panik sekaligus adrenalin.
Happy Reading
TBC