Suara berat Frans dari balik pintu seketika menyiram api gairah itu dengan air es. Mata Gwiyomi membelalak. Sial, Frans benar-benar datang lebih cepat!
Gavin membeku. Ketakutan akan kehilangan tahtanya seketika berperang dengan hasratnya.
"Sembunyi. Sekarang!" bisik Gwiyomi panik. Ia mendorong Gavin dengan sekuat tenaga.
Gavin, yang tidak punya pilihan lain kecuali hancur di depan sepupunya, terpaksa merangkak masuk ke kolong meja pantry yang tertutup oleh kitchen island. Ruangannya sempit dan gelap, tepat di bawah kaki tempat Gwiyomi berdiri.
Gwiyomi menarik napas panjang, merapikan jubah mandinya dengan tangan gemetar, dan membuka pintu tepat saat Frans hendak mengetuk lagi.
"Frans! Astaga, aku baru saja mau ganti baju untuk menjemputmu," ucap Gwiyomi dengan suara yang diusahakan tetap stabil, meski jantungnya berdegup seperti genderang perang.
Frans tersenyum hangat, melangkah masuk ke area dapur. "Tidak apa-apa, penerbangannya lebih awal karena cuaca bagus. Aku langsung minta taksi ke sini." Frans meletakkan tasnya di atas meja pantry—tepat beberapa senti di atas kepala Gavin yang sedang bersembunyi.
"Kamu terlihat pucat, Gwi. Kamu sakit?" Frans mendekat, tangannya terulur menyentuh dahi Gwiyomi.
Di bawah sana, Gavin mengepalkan tinjunya hingga kuku-kukunya memutih. Dari celah kecil, ia bisa melihat kaki Frans berdiri sangat dekat dengan kaki Gwiyomi. Ia bisa mendengar suara sepupunya yang begitu perhatian, suara yang seharusnya tidak ditujukan pada wanita milik-nya.
"Aku... aku hanya sedikit pusing karena laporan audit tadi," dusta Gwiyomi. Ia sengaja sedikit bergeser, menyentuhkan kakinya ke arah persembunyian Gavin seolah memberi peringatan agar pria itu tidak bersuara.
"Istirahatlah. Aku hanya sebentar ke sini untuk memberikan ini," Frans mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya. "Cokelat dari bandara Singapura. Aku tahu kamu butuh asupan gula saat stres."
Frans duduk di kursi bar, "Duduklah sebentar denganku, Gwi. Ceritakan padaku, bagaimana kinerja Gavin sebulan ini? Apa dia masih menyusahkanmu?"
Gwiyomi terpaksa duduk, tepat di atas persembunyian mantan kekasihnya. Ia bisa merasakan hawa panas dari tubuh Gavin yang berada di bawah kakinya.
"Dia... dia bekerja dengan baik, Frans. Sangat profesional," ucap Gwiyomi sambil menatap mata Frans, sementara di bawah meja.
Gwiyomi merasakan jemari Gavin merayap di pergelangan kakinya, sebuah sentuhan yang menuntut sekaligus penuh ancaman. Namun, alih-alih panik atau gemetar, sudut bibir Gwiyomi justru terangkat membentuk senyum manis. Ia menyilangkan kakinya dengan tenang, sengaja menekan punggung tangan Gavin dengan tumit sepatu rumahnya yang empuk.
Ia menatap Frans dengan binar mata yang dibuat sehangat mungkin.
"Terima kasih cokelatnya, Frans. Kamu selalu tahu apa yang bisa membuat mood-ku naik," ucap Gwiyomi lembut, suaranya sengaja dibuat sedikit lebih manja dari biasanya agar terdengar jelas oleh telinga Gavin di bawah sana.
Frans tertawa kecil, tampak sangat menikmati perhatian itu. "Hanya itu yang bisa kulakukan untukmu, Gwi."
“Jadi, bagaimana di kampus? Masih melelahkan?" tanya Gwiyomi.
"Sedikit," jawab Frans sambil menyandarkan punggungnya, tangannya sesekali mengetuk meja pantry. "Tapi kabar baiknya, minggu ini jadwal pengajaranku lumayan santai. Aku akan mengambil WFA (Work From Anywhere) dari Jakarta. Jadi aku punya banyak waktu untuk membantumu mengecek proyek Subang itu."
Gwiyomi mengangguk anggun. Di bawah meja, tangan Gavin kini merambat naik ke betisnya, meremasnya dengan penuh emosi. Gwiyomi tetap bergeming. Ia justru mencondongkan tubuhnya ke arah Frans di atas meja.
"Baguslah kalau begitu. Oh ya, aku dengar dari Vanka, kalian sedang merencanakan liburan keluarga untuk merayakan ulang tahun pernikahan dia dan Gavin ya?" tanya Gwiyomi dengan nada sangat peduli.
"Benar. Vanka sangat bersemangat soal itu. Dia ingin kita semua, termasuk kamu, ikut liburan bersama ke vila di Puncak atau mungkin Bali. Dia ingin merayakan cinta mereka yang sudah berjalan tiga tahun itu dengan meriah," jawab Frans tulus.
Gwiyomi bisa merasakan tubuh Gavin yang meringkuk di bawah sana menegang hebat mendengar kata cinta tiga tahun dan liburan keluarga.
"Tiga tahun... waktu yang lama ya?" Gwiyomi menghela napas dramatis, jemarinya memainkan ujung cangkir tehnya. "Gavin pasti sangat beruntung memiliki istri sepertinya. Dia terlihat sangat mencintai Vanka, bukan? Aku melihat bagaimana dia menatap Vanka di acara doa kemarin. Begitu... tulus."
Gwiyomi sengaja menekankan kata tulus. Di bawah sana, cengkeraman tangan Gavin di kaki Gwiyomi mengeras hingga kuku-kukunya nyaris melukai kulit wanita itu. Gavin pasti sedang mati-matian menahan geraman di kerongkongannya.
"Tentu saja. Gavin memang keras kepala, tapi dia sangat menjaga citra keluarganya," imbuh Frans. "Tapi Gwi, kenapa kamu bicara seolah kamu orang luar? Kamu juga bagian dari rencana liburan ini. Vanka bilang dia sudah memesan kamar khusus untukmu di samping kamar mereka."
Senyum Gwiyomi semakin lebar. Ia bisa membayangkan betapa gilanya Gavin sekarang, terjebak di bawah meja, mendengarkan rencana liburannya bersama sang istri yang akan diawasi oleh mantan kekasihnya di kamar sebelah.
"Tentu saja aku ikut, Frans. Tidak mungkin aku melewatkan momen kebahagiaan mereka," sahut Gwiyomi manis. "Apalagi melihat Gavin merayakan kesetiaannya pada Vanka... itu akan menjadi pemandangan yang sangat menarik bagiku."
Gwiyomi kemudian menurunkan kakinya, sengaja menggesekkan betisnya ke bahu Gavin yang sedang bersembunyi sebagai tanda ledekan, sebelum akhirnya ia berdiri.
"Frans, sepertinya aku harus segera mandi dan istirahat. Kepalaku benar-benar butuh bantal sekarang," ucap Gwiyomi sebagai isyarat halus agar Frans segera pulang.
"Ah, maafkan aku. Aku terlalu asyik mengobrol sampai lupa kamu butuh istirahat," Frans berdiri dan mengambil tasnya. "Aku pergi dulu ya. Besok pagi aku akan mampir ke kantormu sebelum bertemu Gavin."
Frans sudah berdiri di depan pintu, namun ia berbalik sejenak. Sorot matanya melembut menatap Gwiyomi.
"Aku senang kamu kembali ke Jakarta, Gwi."
Tanpa diduga, Frans melangkah mendekat dan menarik Gwiyomi ke dalam pelukan hangat yang sopan namun terasa sangat intim bagi siapa pun yang menyaksikannya dari kegelapan. Frans mengecup pelipis dan kedua pipi Gwiyomi dengan lembut.
"Selamat istirahat, kesayanganku," bisiknya tulus.
Di bawah meja, Gavin melihat pemandangan itu dari celah sempit. Ia melihat bagaimana tangan Frans melingkar di bahu Gwiyomi—bahu yang baru saja ia ciumi. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol. Darahnya mendidih, bukan hanya karena cemburu, tapi karena merasa miliknya sedang diklaim oleh pria lain di depan matanya sendiri.
Begitu pintu apartemen benar-benar tertutup, Gavin merangkak keluar dengan gerakan kasar. Ia berdiri dengan napas memburu, wajahnya merah padam karena amarah yang memuncak.
"b******k!" Gavin menyambar lengan Gwiyomi dan menyentakkannya hingga wanita itu terhuyung. "Kamu menikmati pelukan itu? Kamu menikmati diciumi oleh sepupuku sendiri?!"
Gwiyomi hanya diam, merapikan jubah mandinya yang sedikit berantakan dengan ketenangan yang memuakkan bagi Gavin.
"Kenapa? Frans jauh lebih lembut darimu, Gavin. Dia menghargaiku, tidak seperti kamu yang hanya bisa memberikan palsu pada wanita," balas Gwiyomi tenang.
"Hargai? Dia tidak tahu saja kalau wanita kesayangannya ini adalah w************n yang rela disetubuhi mantan kekasihnya!" maki Gavin gelap mata. Ia mencengkeram rahang Gwiyomi dengan kuat. "Kamu ingin bermain-main dengannya untuk membalas dendam padaku, hah? Kamu pikir kamu suci?!"
Gavin tidak menunggu jawaban. Ia meraup bibir Gwiyomi dengan beringas. Ciuman itu tidak memiliki rasa cinta itu adalah klaim yang kasar dan penuh penghinaan. Ia menggigit bibir bawah Gwiyomi hingga wanita itu merasakan asin darahnya sendiri.
Namun, di luar dugaan Gavin, Gwiyomi tidak memberontak.
Wanita itu justru mengalungkan tangannya ke leher Gavin, membalas lumatan kasar itu dengan gairah yang sama besarnya. Ia menarik rambut Gavin, memaksa pria itu untuk memperdalam ciumannya. Keberanian Gwiyomi membuat pertahanan Gavin runtuh seketika, amarahnya berubah menjadi nafsu yang tak terkendali.
Gwiyomi menarik diri sedikit, napasnya beradu dengan napas Gavin yang tidak beraturan. Ia menatap mata Gavin dengan sorot yang begitu provokatif, lalu berbisik tepat di depan bibir pria itu.
"Kenapa kita bicara soal Frans... jika kamu sudah ada di sini?" Gwiyomi mengulas senyum iblis yang sangat cantik. "Dapur ini terlalu sempit, Gavin. Kamu ingin bermain di sofa? Atau langsung ke ranjang yang akan aku tempati bersama Frans di liburan nanti?"
Mendengar nama Frans disebut dalam konteks ranjang, kewarasan Gavin hilang sepenuhnya. Ia menyambar tubuh Gwiyomi, mengangkatnya ke dalam gendongan, dan membantingnya ke sofa panjang di ruang tengah.
Gavin menindih tubuhnya, tangannya mulai bergerak liar menyingkap sutra gading yang menghalangi kulit Gwiyomi. "Aku akan mengingatkanmu siapa yang pertama kali memilikimu, Gwi. Dan aku pastikan bayangan pria lain tidak akan pernah bisa masuk ke kepalamu malam ini."
Gwiyomi tertawa rendah, sebuah tawa yang terdengar sangat puas. Sambil membiarkan Gavin menciumi lehernya dengan liar, tangannya meraih ponsel yang tergeletak di meja samping sofa—tanpa sepengetahuan Gavin.
Ia tidak menyalakan kamera, tapi ia memastikan sebuah pesan terkirim ke seseorang dengan lokasi apartemennya saat ini.
Game on, Gavin Mahendra.
Happy Reading
TBC