"Jangan kira aku tidak bisa melepaskanmu, Mas," suara Nala terdengar pelan, tetapi tegas. "Aku bisa melepaskan masa laluku dengan Angga… jadi aku juga bisa melepaskanmu." Ebas membeku. Kata-kata itu seperti hantaman keras yang membuatnya kehilangan napas sejenak. Namun, ia tidak bisa membiarkan ini. Tidak bisa membiarkan Nala berpikir bahwa dirinya tidak berarti baginya. Dengan cepat, Ebas berlari ke sisi ranjang, berlutut di samping brankar, mensejajarkan tubuhnya dengan istrinya yang tetap menatap ke arah lain. "Tidak," suaranya bergetar. "Tidak, Nala. Sampai kapan pun aku tidak akan melepaskanmu." Nala tertawa kecil, tapi senyumannya pahit. "Aku bisa membesarkan anakku sendiri, mas. Untuk Cala… itu kewajibanmu. Aku hanya ibu sambungnya." "Stop it!" suara Ebas meninggi, nyaris sepe

