🎤: Troye Sivan Tangis kami pagi itu, bukan karena luka. Tapi karena semesta baru saja memberi satu keajaiban. *** POV AINARA Aku menggeliat pelan saat tubuh hangat Mas Ay menjauh. Ia bergeser ke tepi ranjang, lalu samar suara tepukan di atas permukaan kayu membuatku memaksa mengangkat kelopak mata. Kemudian senyap kembali. Dan ia balik memelukku. Aku nyaris kembali tenggelam dalam kantuk saat aroma tubuh Mas Ay memenuhi indera penciumanku. Hangat dan menenangkan. Lengan kami saling bertaut di bawah selimut yang turun ke pinggang. Kamar masih temaram, tirai blackout yang belum tersibak menutup rapat sinar mentari yang merangkak naik di luar jendela. Sepertinya waktu hanya berselang singkat saat suara getaran membuat kami berdua terjaga lagi. “HP kamu, sayang. Bukan Mas,” gumamnya,

