Daniel membalas tatapan Keenan yang tajam, menyadari bahwa pria itu tengah terjerat masalah yang lebih dalam daripada yang terlihat. Ada beban berat yang menahan kata-kata di bibir Keenan, sebuah rahasia yang terlalu berbahaya untuk diungkapkan sembarangan. Namun, di balik dinding keheningan itu, Daniel mencoba menembus kebisuan dengan suara yang penuh keyakinan. "Pak Keenan," katanya pelan tapi mantap. "Nadine bukanlah orang lain bagi saya. Dia sahabat saya. Dan Anda bukan hanya bos saya, tapi juga orang yang sudah memperlakukan saya dengan baik di sini, menolong ibu saya, memberikan saya harapan. Itu artinya, Bapak juga sahabat saya, walaupun Pak Keenan tidak mau mengakuinya." Mata Daniel menatap lurus ke mata Keenan, mengabarkan kesungguhan yang tak bisa dipungkiri. "Kalau memang Bapak

