"Aku, Daniel." Mendengar nama itu, Bianca terpaku sejenak, seolah suara itu menari-nari di ujung ingatannya—tak asing, namun samar seperti bayangan yang menolak disentuh. Tetapi, dia segera mengusir pikiran itu, mengingat betapa banyak nama 'Daniel' di dunia ini, mungkin wajar jika ia pernah mendengarnya. "Oh, iya. Sekali lagi, terima kasih banyak ya, Daniel. Kamu sudah membantuku. Untuk membalasnya, gimana kalau kamu mampir ke rumahku dulu? Aku buatkan minuman, atau kita bisa ngobrol sebentar," ajak Bianca dengan suara penuh harap yang tak bisa disembunyikan. Daniel menatapnya dalam diam, ragu-ragu. Meski itu yang dia harapkan, tetapi tak mau langsung menerimanya begitu saja. "Kamu yakin? Aku menolongmu dengan tulus, tidak butuh balasan apa-apa," ucapnya pelan, ada kehangatan dalam nad

